- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sebagai orang Indonesia, adalah hal yang mengharukan sekaligus membanggakan ketika melihat atau tim sepak bola asal Indonesia berhasil menjuarai turnamen bergengsi. Anggap saja kita melihat Persebaya Surabaya, Persib Bandung atau Persija Jakarta berhasil menjuarai Liga Champions Asia. Selain Bonek, Bobotoh atau Jakmania yang kegirangan, tentu sebagian besar rakyat Indonesia akan merasakan kebahagiaan yang sama. Sedihnya, harapan itu sangat sulit diwujudkan di dunia nyata. Untungnya, hal itu bisa diwujudkan di dunia simulasi melalui permainan Football Manager.
Permainan ini berbeda dari eFootball atau EA FC. Di kedua game itu kita bisa secara langsung mengendalikan permainan tim menggunakan joystick. Kalau di Football Manager, kita cuma bisa mendampingi tim saat bertanding. Jangan harap bisa passing ke pemain yang kita mau, yang ada malah emosi melihat pemain salah passing, bolanya dipotong lawan, atau peluang terbuang percuma, gregetan. Di saat seperti itu, langsung refleks klik tombol berate di panel shout, pemain yang salah langsung kita berikan hair dryer treatment dari pinggir lapangan, tapi efek sampingnya pemain itu bisa jadi bad mood.
Game ini unik sekali, kita harus benar-benar mengatur klub dan pemain dengan teliti, bukan cuma mengatur formasi. Sebagai pemain eFootball, saya mengira tinggal atur formasi sebentar lalu langsung bisa bermain. Ternyata tidak, hampir semua urusan klub harus diperhatikan bahkan sampai mood pemain. Formasi disusun pertama kali sebagai dasar latihan tim, kemudian perlu siapkan tiga sesi latihan per hari pada tiap pekan. Bahkan, posisi dan peran pemain secara individu juga harus dicermati, jangan sampai pemain kayak Filipo Inzaghi dijadikan deep lying forward, bisa dipastikan beliau main kayak ayam tanpa kepala.
Awal mencoba game ini, saya langsung tertarik buat melatih klub idola, king dari segala king: Manchester United. Berharap bisa menjadi penerus Sir Alex Ferguson dan mengembalikan kejayaan tim. Namun karena baru mulai bermain, saya belum kenal fitur dan apa saja yang harus diatur sebagai manajer tim. Yang pasti, sama sekali tidak menyenangkan saat harus menunggu hari demi hari berlalu, maunya langsung ke match day, selain itu skip saja.
❝ Baca Juga : Edo dan Cristiano Ronaldo
Kebiasaan menekan tombol next menjadi awal mula keterpurukan King Emyu. Akibat kesabaran yang setipis tisu, saya mengabaikan sesi latihan, rapat tim kepelatihan, bahkan mengabaikan pemain yang minta naik gaji. Tidak tega melihat tim kesayangan terpuruk di posisi 14 klasemen sementara, ditambah stres menghadapi jadwal padat saat boxing day, ada baiknya sadar diri dan mundur dari kursi manajer.
Karena gagal melatih Manchester United, saya memutuskan untuk pulang kampung, melatih tim asal Indonesia saja, dan pilihan jatuh ke Persebaya Surabaya. Pada mulanya saya mengira melatih tim lokal akan sangat mudah, ternyata permasalahannya bukan cuma mengatur formasi, menu latihan, atau posisi pemain, melainkan lebih pelik: keuangan klub.
Rata-rata klub asal Indonesia memiliki kemampuan finansial yang buruk, tapi di game Football Manager ya, jangan disamakan dengan dunia nyata. Berhasil finish di posisi 3 klasemen akhir di musim pertama tidaklah buruk. Tapi begitu membuka panel finances, overall balance alias neraca keuangan klub rupanya sudah minus, akibatnya board alias dewan direksi klub tidak mengizinkan membeli pemain baru.
Tidak menyerah, saya mencoba berbagai cara untuk mengembalikan kesehatan keuangan klub. Dimulai dengan melepas beberapa pemain penting dan menggantikannya dengan pemain muda potensial, meminimalisir pengeluaran gaji pemain, hingga membuat Loan Army di Persebaya Surabaya karena tak mampu membeli pemain secara permanen. Celakanya, sungguh sudah menjual banyak pemain, sungguh sudah menekan pengeluaran gaji pemain, neraca keuangan masih saja minus. Runyam.
Pertolongan selalu datang di saat yang tepat. Setelah ke sana kemari mencari alamat berbagai tips bermain Football Manager, saya menemukan satu trik kotor ala Nobita, bukan kantong ajaib Doraemon, melainkan pensil ajaib alias fitur in-game editor. Neraca yang awalnya sakit bisa disulap jadi sehat kembali, bahkan tinggal ketik angka 100 juta euro, klub bisa beli pemain asing yang rating-nya jauh lebih tinggi dari pemain lokal. Di musim kedua Persebaya jadi klub terkaya di Indonesia sekaligus juara Liga 1 dan Piala Indonesia🤣
Memainkan Football Manager benar-benar menyenangkan, bisa menghabiskan waktu berjam-jam cuma untuk mengulik formasi dan posisi, belum lagi mencari pemain yang cocok dengan filosofi permainan tim. Sebuah tips: saat memulai permainan, sebaiknya langsung menyusun tim kepelatihan yang proper. Menjadi manajer klub bola itu berat, biar tim kepelatihan yang bantu, ya.
Ada banyak cara menikmati game ini, bisa dengan bermain ala kadarnya sesuai aturan game, atau bermain dengan penuh kreativitas memanfaatkan fitur create a club dan in-game editor yang kemudian bisa berkembang jadi universe tersendiri. Keduanya benar, keduanya sah-sah saja karena memang ada di dalam game resminya. Bagaimanapun cara memainkannya, permainan adalah hiburan yang ditujukan untuk melepas penat dari rutinitas.
Komentar
Posting Komentar