Semburat jingga memenuhi langit, pertanda matahari sebentar lagi pamit. Jalan Ahmad Yani Kota Pontianak masih saja ramai. Ada yang bersepeda, ada yang masih berkemeja rapi sepulang kerja, ada juga yang baru update rute lari strava.
Di sudut jalan, seorang mahasiswa keluar dari bilik ATM Bank Kalbar UNTAN. Di depan motornya ia berdiri diam, struk saldo masih di genggaman, tertulis sisa saldo Rp119.000. Ia melipatnya dua kali, tiga kali, sampai jadi lipatan kecil.
Ponselnya bergetar. Pesan pertama dari bagian keuangan kampus,
daftar ulang semester 4, UKT Rp2.500.000, batas pembayaran 31 Juli.
Ada pesan lain, dari Ayahnya,
Bud, Ayah belum gajian. Seminggu ini hujan terus, kebun libur. Kalau lancar, minggu depan Ayah transfer kiriman. Sabar ya, Nak.
Ayah Budi buruh harian di kebun sawit. Tidak terikat hari kerja, tidak ada upah bulanan. Dan sekalipun minggu depan ada kiriman, Budi tahu jumlahnya tak akan sampai dua setengah juta.
Ada pesan baru yang masuk, kali ini dari nomor ibunya,
Bang, kata Ibu Abang mau jadi pengacara ya? Nanti bela aku kalau dimarahi Ibu.
Ternyata adik bungsunya yang mengirim pesan melalui nomor Ibu. Budi anak sulung dari tiga bersaudara, pemuda dari Desa Sungai Ayak, Kabupaten Sekadau yang kuliah sampai ke Pontianak. Ibunya sudah bercerita hampir ke semua penduduk desa kalau anaknya akan jadi sarjana.
Masih di parkiran, Budi menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak menatap langit. Tak ada apa-apa di atas sana, cuma awan yang disinari cahaya senja. Dahinya berkerut, tatapannya kosong. Budi menaiki motornya. Biasanya ia sudah sampai di kos ujung Jalan Sepakat II sebelum magrib, tapi sore itu ia melaju lebih jauh, ke Jalan Imam Bonjol untuk mampir ke warung Bang Edo.
┃Baca Juga: Edo dan Cristiano Ronaldo
“Bang, ada kopi ABC botol?”
“Ada, Bang. Itu di sana. Kalau mau yang dingin ambil aja di kulkas”
Budi mengambil sebotol kopi dingin. Sebelum membayar, matanya tertuju ke rak kue jadul di depan kasir. Ada bolu kering kesukaannya, kemasan kecil isi empat, harganya 5 ribu rupiah. Diambilnya satu kemasan lalu menuju kasir.
“Berapa semua, Bang?”
“Kopi sama bolu, totalnya 9 ribu ya, Bang”
Di dompetnya ada selembar uang dua puluh ribu dan empat lembar uang lima ribu. Dikeluarkannya dua lembar lima ribu, diterimanya kembalian seribu. Budi menyimpannya baik-baik. Sampai besok malam, yang tersisa untuk Budi cuma bolu ini, uang tiga puluh satu ribu di dompet dan seratus sembilan belas ribu di rekening yang sudah dijatah untuk beli bensin dan token listrik.
Selesai membayar, Budi pergi lanjut berkendara dan berhenti di depan sebuah rumah makan padang. Ia memarkirkan motornya di sana, kemudian berjalan menuju bangku trotoar yang berada tepat di seberang SPBU Paris II. Budi duduk, bersandar, dan kembali mengambil napasnya dalam-dalam, berusaha menghentikan kalut pikirannya.
Budi menyeruput kopi botol dan memakan sebuah bolu. Satu bolu saja. Cepat-cepat ia lipat ujung kemasannya dan menggenggam erat di tangan kanan. Masih ada tiga buah bolu pikirnya, harus cukup sampai besok malam.
Di depannya banyak sekali kendaraan yang melintas. Ditolehnya ke kiri, ada tukang tambal ban sedang merendam ban dalam di ember, mencari titik yang bocor. Ditolehnya ke kanan, ada seorang pria tua sedang melakukan pendinginan, terlihat peluh di dahinya. Budi memerhatikannya cukup lama, umurnya sekitar 60 tahun, mengenakan kaus berwarna putih, ada saku di bagian perut kausnya. Budi mengenali kaus itu, kakeknya mengenakan kaus yang sama ketika pergi umroh saat ia masih berusia 13 tahun.
Kulit pria tua itu memerah terbakar matahari, tampak keriput di leher dan tangannya. Ia terus melanjutkan pendinginan. Kali ini membungkukkan badannya kemudian mengayunkan tangan ke depan dan belakang bergantian. Setelah merasa cukup, pria itu menarik napas sambil mengangkat kedua tangan, lalu mengayunkannya ke depan sambil berseru, “haaaahh!”
“Sungguh orang tua yang penuh semangat”
Batin Budi.
Melihat pria itu membuat Budi teringat dengan kakeknya di kampung halaman. Orang tua yang juga tidak bisa berdiam diri. Ada saja yang dikerjakannya. Kadang memancing, kadang memperbaiki kabel coloan, kadang juga memperbaiki tangga kayu di tepi sungai, tangga yang dipakai untuk berpijak saat mengambil air atau menuju sampan.
“Eh, ada apa, Bang?
Pria itu baru sadar dirinya sedang diperhatikan. Budi tersentak.
“Ah, ti- tidak ada, Pak. Bapak mau makan kue bolu?”
“Hahaha, kamu ini. Saya baru selesai olahraga, minum air putih saja. Lagi pula sebentar lagi jam makan malam. Kenapa kamu pegang bolu itu terus?”
Budi melihat ke bawah, tangan kanannya memegang erat kemasan kue bolu sedangkan tangan kirinya memegang kopi botol.
“Bolu ini rencananya untuk saya makan besok. Dua untuk siang dan satunya untuk malam.”
“Baik sekali kamu memberikan jatah makanmu besok, padahal paginya kamu tidak makan ahaha...”
Ujar pria tua sambil sedikit terkekeh, berhasil membuat Budi jengkel.
“Permisi sedikit, Bang. Pinggang saya rasanya tak nyaman, sepertinya terlalu kuat saat membungkuk tadi. Saya duduk di sini ya.”
Budi menggeser posisinya sampai menyentuh sandaran tangan di sebelah kiri. Pria itu duduk di sebelahnya, di bangku yang sama. Agak canggung rasanya karena diam saja, Budi berusaha memulai obrolan.
“Bapak simpan motor di mana?”
“Saya tidak pakai motor, rumah saya di Jalan Paris II, di jalan seberang ini. Tidak jauh, tapi saya kelelahan. Tadi saya niatnya olahraga sore, jalan kaki sampai ke museum, lalu menyebrang ke pendopo gubernur. Salah juga tadi kenapa saya menyebrang, harusnya putar balik saja. Sekarang capeknya jadi ekstra, capek karena jalan kaki sekaligus capek harus menyebrang jalan.”
Sepatah kata Budi bertanya, dibalas dengan panjang oleh pria itu.
“Bapak sepertinya suka jalan-jalan, ya?”
“Tidak juga, tapi jalan-jalan sepertinya lebih baik dibanding duduk melamun sambil menghitung bolu hahaha...”
Budi kena lagi, berkali-kali ia diusili oleh orang tua yang sama sekali tidak ia kenal.
“Iya betul, Pak. Tapi sepertinya lebih baik menghitung bolu daripada punya pinggang yang sensitif.”
“Pintar juga kamu hahahaha... Ini sudah mau maghrib, kamu tidak pulang?”
“Belum, Pak. Saya masih mau ...”
“Menghitung bolu?”
Pria tua segera menyambar sebelum Budi selesai bicara.
“Saya masih mau jalan-jalan, Pak. Sambil menghitung bolu tentunya.”
Lanjut Budi mengabaikan keusilan pria tua itu.
“Bolunya ada tiga, ‘kan? Mau berapa kali kamu hitung supaya kamu yakin jumlahnya memang tiga?”
Budi diam. Ia tak sanggup menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Budi membuka tutup botol kopi kemudian meminumnya perlahan, cukup untuk membasahkan tenggorokan.
“Bapak mau minum?”
“Tidak, terima kasih. Saya biasanya bekal botol minum ukuran kecil yang berisi air putih. Saya minum sedikit-sedikit supaya bisa bertahan sampai kembali ke rumah. Tadi sudah saya siapkan di meja makan, tapi ketinggalan. Untungnya tadi saat menyebrang ke pendopo gubernur sedang ada acara. Saya masuk saja, menuju ke aula tempat acara, lalu mengambil satu gelas air mineral kemasan. Itu ‘kan rumah rakyat, saya ‘kan rakyat, jadi saya boleh minum.”
Budi tidak membalas, ia hanya memandangi pria tua sambil tersenyum.
“Kamu kenapa, Bang? Kok senyum-senyum begitu? Awas nanti disangka orang stres hahaha...”
“Iya, Pak, saya memang lagi stres, saya belum menemukan jawaban, saya bingung apa yang harus saya lakukan.”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
┃Baca Juga: Apa Kabar, Nak Dayat?
“Jawaban dari apa, Bang? Memangnya mau melakukan apa? Kamu masih kuliah atau sudah kerja, Bang?”
“Saya kuliah, Pak, mau selesai semester 3, jurusan hukum internasional.”
Pria itu mengangguk, berlagak paham.
“Maaf ya, Bang, sekadar saran saja, Abang ‘kan masih muda, selesaikan dulu saja kuliahnya. Urusan cewek gampang itu, Bang hehehe.... Abang dari Pontianak, ‘kan?”
“Bukan urusan cewek, Pak. Ayah saya belum mengirim uang daftar ulang. Dua juta lima ratus ribu. Malam ini batas akhir pembayaran.”
Budi menelan ludah, berat suaranya bercerita.
Pria itu terdiam menatap Budi. Berusaha memahami dengan utuh apa yang dirasakan lawan bicaranya.
“Bang, sepertinya jurusan hukum internasional cukup berat, ya. Saya dulu kuliah jurusan teknik sipil. Saya dari Desa Galing, Bang. Bapak saya punya kebun sayur gambas, jadi setiap mau kembali ke Pontianak, saya pasti dibekali gambas sampai satu karung, dua bulan baru habis, Bang hahahaha...”
“Bapak tidak bosan makan gambas terus selama itu?”
“Bosan, tapi sepertinya mendingan dibanding makan kue bolu saja seharian penuh ahahaha....”
Tak ada respon, Budi cuma diam, menunduk memerhatikan bolunya. Matanya menangkap sebuah mobil sedan yang menepi di samping trotoar. Ia bingung kenapa mobil itu berhenti cukup lama dengan lampu sein kiri yang menyala.
“Bang, maaf ya saya banyak mengusili kamu sore ini. Saat saya selesai semester 5 dulu, kebun Bapak saya gagal panen. Tidak ada harapan lagi, apa yang orang tua saya punya cuma bisa dipakai untuk bertahan hidup sampai musim panen berikutnya. Uang saya cuma tersisa seribu rupiah, untungnya biaya bus waktu itu cuma lima ratus rupiah. Daripada luntang-lantung tanpa kejelasan di Pontianak, lebih baik saya pulang, toh saya belum bisa melanjutkan ke semester 6 karena tidak bisa daftar ulang, tidak ada duitnya saat itu.”
“Jadi Bapak putus kuliah?
“Tentu saja tidak, saya cuti satu semester, Bang. Sebelum pulang, saya ajukan dulu permohonan cuti. Sambil menunggu izinnya keluar, saya bantu mamang cendol mencuci gelas. Lumayan dapat 50 rupiah sehari, tapi dulu harga bubur cuma 10 rupiah, Bang. Saya masih bisa makan enak sampai besok pagi hahahaha...”
Budi ikut tertawa, pundaknya terlihat lebih kendur dari sebelumnya.
“Sudah mulai malam, Bang, saya belum sholat maghrib. Saya pulang dulu, ya.”
“Oh iya, Pak. Saya juga mau pulang”
Pria tua menyalami Budi, berjalan menuju sedan yang sedari tadi menepi. Di balik kemudi, seorang pria berpeci mengangguk hormat, terlihat pajangan berbentuk helm di depannya. Kaca jendela turun, pria tua tadi melambaikan tangan. Budi membalas lambaian sambil tersenyum.
Sedan itu melaju pergi. Budi mendengus lalu tertawa di bangku trotoar.
“Bapak itu bilang rumahnya dekat, tapi pulangnya malah dijemput pakai mobil bagus, di belakangnya tadi ada tulisan lexus sepertinya. Kena lagi aku dikerjai hahaha...”
Tutup botol kopi dibuka, Budi meminum lagi kopinya. Kali ini tidak disesap, ia minum dengan nyaman dan mantap. Lalu-lalang kendaraan di depannya perlahan terasa jauh, suaranya memudar jadi latar yang samar. Kalimat pria tua tentang cuti semester terus terngiang, pikirnya itu adalah jawaban atas persoalannya saat ini.
Tapi sebentar kemudian keraguan itu datang. Bagaimana kalau semester depan kebun Ayah tetap tidak panen? Bagaimana kalau setelah cuti ia justru tidak pernah kembali, seperti beberapa kakak kelas di desanya dulu yang juga mengambil cuti. Budi menatap botol kopi yang tinggal setengah, memutar-mutar botolnya.
Dilihatnya kemasan bolu. Tinggal tiga. Kalau ia nekat bertahan tanpa kepastian biaya, mungkin tidak ada bolu lagi untuk dihitung. Diingatnya wajah pria tua tadi, cara ia bercerita soal mencuci gelas mamang cendol terlihat tanpa beban. Bukan karena keputusan untuk cuti itu ringan, tapi karena ada niat kuat untuk kembali menyelesaikan kuliah.
Budi diam beberapa saat. Diusapnya wajah dengan telapak tangan, menarik napas panjang seperti saat pertama kali ia duduk di bangku itu. Berusaha memikirkan keputusan apa yang harus diambil sesuai dengan kondisinya saat ini. Cuti bukan kekalahan, pikirnya perlahan berusaha meyakinkan diri. Cuti adalah salah satu cara untuk mengusahakan keadaan menjadi lebih baik.
Kembali Budi menarik napas panjang dan mendongak, terlihat bintang-bintang mulai bermunculan di langit.
“Aku belum bisa melanjutkan kuliah, kalau ambil cuti dan pulang, itu cuma menghabiskan ongkos transportasi. Ada baiknya ambil cuti sambil kerja saja di sini. Aku harus memberi tahu Ayah dulu kalau ada perubahan rencana.” gumam Budi.
Budi membuka ponselnya. Dicarinya kontak ayah. Jarinya berhenti sejenak di atas layar sebelum mulai mengetik,
Yah, sepertinya kuliah Budi akan terlambat. Tapi Budi janji akan tetap menyelesaikan kuliah sampai jadi pengacara.
Ia membaca ulang pesan itu, dua kali. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memberanikan diri menekan tombol kirim.
Budi langsung memasukkan ponselnya ke saku celana. Sebelum menyalakan motornya, ia habiskan kopi botol sambil memakan sebuah bolu, cepat-cepat ia simpan 2 bolu sisanya ke dalam jok motor.
Komentar
Posting Komentar