Zinedine Zidane : Sebelum Insiden Piala Dunia 2006


Menit ke-110, final Piala Dunia 2006 di Olympiastadion Berlin. Para pemain sudah berada di ambang batas fisik mereka. Nafas pendek, langkah mulai berat, tapi gengsi sebuah negara membuat tak seorang pun mau menyerah. Di satu sisi berdiri Zinedine Zidane, jenderal lapangan tengah Prancis yang mengendalikan tempo dengan visi dan kemampuan tekniknya. Di sisi lain ada lini belakang Italia yang dipimpin Fabio Cannavaro, bek yang malam itu tampil seperti dinding tak tertembus. Tapi momen yang akan dikenang dunia malam itu bukan sekedar laga final. Sorotan sejarah justru berbelok pada satu duel kecil di tengah lapangan, antara Zidane dan Marco Materazzi.

Beberapa detik sebelum insiden, keduanya terlibat tarik-menarik jersey saat bola berada jauh dari mereka. Materazzi terus melontarkan provokasi, kalimat-kalimat pendek yang kemudian diakui Zidane menyinggung keluarganya. Zidane sempat berjalan menjauh, seolah memilih mengabaikannya. Namun hanya beberapa langkah kemudian ia berhenti, berbalik, dan dalam satu gerakan tiba-tiba menghantamkan kepalanya ke dada Materazzi. Bek Italia itu jatuh seketika di rumput Berlin. Stadion terdiam beberapa detik, sebelum wasit Horacio Elizondo menghampiri dan mengeluarkan kartu merah. Malam itu menjadi penutup karier internasional Zidane, bukan dengan trofi, melainkan dengan sebuah tandukan yang selamanya menjadi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia.


Bocah dari La Castellane

Zinedine Zidane lahir pada 23 Juni 1972 di Marseille, Prancis. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara dalam keluarga imigran Aljazair. Orang tuanya, Smaïl dan Malika Zidane, datang ke Prancis pada awal 1950-an mencari kehidupan yang lebih stabil setelah meninggalkan desa kecil di wilayah Kabylie. Mereka menetap di kawasan La Castellane, sebuah kompleks perumahan padat di pinggiran Marseille yang pada masa itu dikenal keras, penuh pengangguran, ketegangan sosial, dan peluang hidup yang tidak selalu berpihak pada anak-anak yang tumbuh di sana.

Di lingkungan seperti itu, disiplin menjadi pagar pertama dalam hidup Zidane. Ayahnya bekerja sebagai penjaga keamanan di sebuah swalayan, menjalani jam kerja panjang agar keluarganya tetap bertahan. Rumah mereka sederhana tapi penuh aturan. Zidane tumbuh dengan satu prinsip yang terus diingatnya: bekerja keras dan tidak membuat masalah. Di luar rumah, dunia anak-anak La Castellane keras dan bising. Namun bagi Zidane kecil, ada satu tempat yang terasa seperti ruang kebebasan, sebuah lapangan terbuka bernama Place Tartane. Di tempat itu, sejak usia sekitar lima tahun, ia menghabiskan waktu bermain bola bersama anak-anak lain hingga malam turun.

Bola menjadi bahasa yang membuatnya diterima di mana pun. Di antara tembok beton perumahan, Zidane kecil mulai menunjukkan sesuatu yang berbeda. Sentuhan pertamanya lembut, gerakannya tenang, dan ia selalu tampak punya waktu lebih banyak dibanding pemain lain. Bakat itu membawanya masuk ke klub lokal US Saint-Henry ketika berusia sepuluh tahun. Dari sana ia melanjutkan ke SO Septèmes-les-Vallons, tempat kemampuan teknisnya semakin terlihat. Para pelatih mulai menyadari bahwa anak kurus dari La Castellane ini memiliki visi bermain yang tidak biasa untuk usianya.

Bakatnya menarik perhatian pencari bakat yang kemudian membawanya ke akademi AS Cannes. Bagi Zidane remaja, meninggalkan Marseille adalah langkah besar. Ia harus berpisah dari keluarga dan lingkungan yang membesarkannya. Tetapi kesempatan itu tidak disia-siakan. Ia berkembang cepat di tim muda Cannes, hingga akhirnya pada tahun 1989, saat usianya 17 tahun, Zidane menjalani debut profesionalnya di Ligue 1. Dari lapangan kecil Place Tartane, Zidane memulai kariernya di Stade Pierre de Coubertin. 


Dari Les Girondins hingga Los Galacticos

Setelah tiga musim membela AS Cannes, bakat Zinedine Zidane mulai menarik perhatian klub-klub besar Prancis. Pada tahun 1992 ia pindah ke Girondins de Bordeaux dengan nilai transfer sekitar 7 juta franc Prancis (dikonversi sekitar 1–2 juta euro). Di Bordeaux, Zidane berkembang dari gelandang muda berbakat menjadi pengatur permainan tim. Selama empat musim ia mencatatkan 139 penampilan dan 28 gol di semua kompetisi. Musim 1995 menjadi titik penting ketika Bordeaux menjuarai UEFA Intertoto Cup. Setahun kemudian mereka membuat kejutan di Eropa dengan melaju hingga final 1995–96 UEFA Cup setelah menyingkirkan klub-klub kuat seperti AC Milan dan Real Betis. Meski akhirnya kalah dari Bayern Munich, penampilan Zidane di turnamen itu membuat namanya mulai masuk jajaran gelandang elit.

Musim panas 1996 menjadi titik loncatan berikutnya. Zidane direkrut oleh raksasa Italia, Juventus, dengan nilai transfer sekitar 3,2 juta euro. Di Turin, ia bertransformasi menjadi gelandang kelas dunia. Bersama Juventus, Zidane memainkan 212 pertandingan dan mencetak 31 gol. Ia menjadi pusat kreativitas tim yang mendominasi Italia pada akhir '90-an. Ia membantu Juventus menjuarai Serie A pada 1996–97 dan 1997–98, memenangkan UEFA Super Cup 1996 serta Intercontinental Cup 1996. Juventus juga mencapai final UEFA Champions League pada 1997 dan 1998, meski harus puas sebagai runner-up. Di tengah dominasi itu, Zidane meraih penghargaan individu tertinggi: Ballon d'Or 1998, menegaskan statusnya sebagai pemain terbaik dunia.

Pada tahun 2001, Real Madrid memecahkan rekor transfer dunia saat itu dengan membayar sekitar 77,5 juta euro untuk membawa Zidane ke Santiago Bernabéu. Di Madrid ia menjadi bagian dari era “Galácticos”, kumpulan bintang yang membentuk salah satu skuad paling ikonik dalam sejarah sepak bola. Selama lima musim bersama klub Spanyol itu, Zidane mencatatkan 227 penampilan dan 49 gol di semua kompetisi.


Generasi Emas Les Bleus

Piala Dunia 1998 menjadi puncak prestasi Zinedine Zidane. Prancis mendapat keuntungan psikologis besar karena menjadi tuan rumah turnamen tertinggi antar negara tersebut. Les Bleus didukung penuh oleh suporternya yang selalu memenuhi stadion. Tim asuhan Aimé Jacquet datang dengan generasi emas yang dikenal solid dan disiplin. Pertahanan kokoh yang dipimpin Marcel Desailly dan Laurent Blanc, stamina tanpa henti dari Didier Deschamps di lini tengah, serta kecepatan Thierry Henry di lini depan. Meski begitu, sebelum turnamen dimulai publik Prancis tidak sepenuhnya yakin. Jacquet sempat dikritik karena gaya bermain yang dianggap terlalu defensif, dan Zidane sendiri sempat mendapat sorotan setelah kartu merah kontroversial di fase grup melawan Timnas Arab Saudi. Namun seiring turnamen berjalan, struktur permainan Prancis terbukti efektif. Mereka melaju stabil melewati fase gugur hingga mencapai final.

Laga puncak di Stade de France mempertemukan Prancis dengan juara bertahan Brazil yang dipimpin Ronaldo Nazário. Banyak yang memprediksi Brasil akan kembali berjaya, tetapi malam itu justru menjadi panggung bagi Zidane. Pada menit ke-27, ia melompat menyambut sepak pojok Emmanuel Petit dan mencetak gol melalui sundulan ke gawang Brasil. Menjelang akhir babak pertama, tepat di menit 45+1, Zidane kembali mencetak gol dengan sundulan hampir mirip dari situasi sepak pojok Youri Djorkaeff. Dua gol itu mengubah arah pertandingan sepenuhnya. Emanuel Petit memastikan kemenangan 3–0 melalui kaki kirinya lewat skema serangan balik. Malam itu, Prancis meraih gelar Piala Dunia pertama dalam sejarahnya. Zidane dengan dua sundulan yang tak terlupakan, menjadi simbol kemenangan generasi emas sepak bola Prancis. Pada tahun yang sama, Zidane memperoleh penghargaan Ballon d'Or, penghargaan bergengsi bagi pemain sepakbola terbaik pada tahun itu.

Kesuksesan Zinedine Zidane bersama Timna Prancis berlanjut di Piala Eropa Tahun 2000 yang digelar di Belgia dan Belanda. Datang sebagai juara dunia, Prancis justru tampil semakin matang. Zidane menjadi pusat permainan tim asuhan Roger Lemerre, mengendalikan tempo dan kreativitas lini tengah. Sepanjang turnamen ia tampil dalam 5 pertandingan, mencetak 2 gol dan 1 assist, namun pengaruhnya jauh melampaui angka statistik. Salah satu momen paling menentukan terjadi di semifinal melawan Portugal ketika Zidane mencetak golden goal melalui penalti di menit 117, memastikan kemenangan 2–1 dan membawa Prancis ke final.

Di partai puncak melawan Italia, Prancis sempat tertinggal hingga menit-menit terakhir sebelum gol penyama dari Sylvain Wiltord memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu. Drama berakhir ketika David Trezeguet mencetak gol yang memastikan kemenangan 2–1 dan gelar juara Eropa bagi Prancis. Sepanjang turnamen, Zidane tampil sebagai pemain paling dominan di lini tengah. Tenang, kreatif, dan menentukan di momen krusial, sehingga dinobatkan sebagai Player of the Tournament. Gelar ini melengkapi status Prancis sebagai tim pertama sejak Jerman Barat pada 1974 yang mampu menyandingkan gelar Piala Dunia dan Piala Eropa berurutan.


Sang Maestro

Dalam dunia sepak bola yang keras dan penuh benturan, keanggunan jarang menjadi kata yang digunakan untuk menggambarkan seorang pemain. Namun itu tidak berlaku untuk Zinedine Zidane ketika mulai mendominasi lapangan besar Eropa. Sentuhan pertamanya lembut, gerakannya tenang, dan keputusannya sering terasa satu langkah lebih cepat dari pemain lain. Pada awal 2000-an, ketika Zidane telah menjadi ikon permainan di Real Madrid, presiden klub Florentino Pérez pernah memberikan komentar yang kemudian menjadi legendaris. Dalam sebuah wawancara media sekitar 2001, tak lama setelah Madrid memecahkan rekor transfer dunia untuk memboyongnya dari Juventus, Pérez berkata bahwa Zidane bermain seolah mengenakan jas. Maksudnya sederhana namun kuat: ketika pemain lain terlihat berkeringat dan berjuang keras, Zidane justru bergerak dengan ketenangan aristokrat, seakan sepak bola hanyalah ruang kerja yang ia kuasai sepenuhnya.

Manajer legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, juga pernah memberikan salah satu pujian paling terkenal dalam sejarah sepak bola. Dalam wawancara media sekitar 2003, Ferguson mengatakan bahwa jika ia diberi 10 tongkat kayu dan Zidane, ia akan memenangi Liga Champions. Ungkapan itu bukan sekadar hiperbola; itu adalah cara Ferguson menggambarkan betapa jenius seorang Zidane di lapangan. Seorang pemain yang mampu mengubah ritme pertandingan sendirian, mengangkat kualitas tim di sekelilingnya, dan membuat sepak bola terlihat lebih sederhana dari yang sebenarnya.

Dua komentar dari tokoh besar itu menggambarkan satu hal yang sama: Zidane bukan sekadar pemain hebat, ia adalah seorang maestro, seorang konduktor yang mengubah pertandingan menjadi pertunjukan elegan. Ketika pemain lain berlari, ia meluncur anggun. Ketika pemain lain bereaksi, ia sudah lebih dulu melakukan. 

Menit ke-110 di Berlin itu sering diingat sebagai noda dalam karier Zinedine Zidane. Namun mungkin malam itu juga memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi dari seorang maestro. Bahkan seorang pemain yang membuat sepak bola terlihat seperti seni, pada akhirnya tetap seorang manusia yang bisa kehilangan kendali.

Selesai.