Kue Bolu Budi

Edo dan Cristiano Ronaldo


"Edo, cepat bangun, sekarang sudah jam setengah 6 pagi. Segera mandi dan sarapan lalu pergi sekolah!"

Edo yang masih terbuai mimpi diteriaki ibunya dari dapur. Ia membuka mata, berusaha duduk di kasurnya. Hari ini hari kamis, 31 januari 2008. Sebelum meraih handuk, ia mengemaskan buku pelajaran sesuai jadwal sekolahnya hari ini.

"Biologi, penjaskes, istirahat. Setelah main bola, jajan bakwan sama teh es enak nih nanti. Eh pelajaran terakhir....ah bahasa indonesia."

Gumam Edo sambil memasukkan satu per satu bukunya ke dalam tas.

Ia sekolah di SMP Negeri 13 Pontianak, kelas VIII C. Pelajaran penjaskes adalah salah satu yang ditunggu, biasanya diawali materi dari Pak Guru, kemudian siswa/siswi dibiarkan bebas bermain. Ada yang bermain sepak bola, bola basket, bermain passing bola voli, dan beberapa siswi yang langsung pergi ke kantin karena setelahnya jam istirahat.

Edo mengambil handuk, pergi mandi, pakai seragam sekolah, dan duduk sarapan sambil nonton tv. 

"Ah sudah jam 6 lewat 10, pasti sport 7 sudah mulai, sepertinya tadi malam Manchester United main, lawan siapa yaa..."

Ia meraih remot tv, menggantinya ke Trans 7. Tepat saat cuplikan sepak bola mulai diputar. 

MU 2-0 Portsmouth

"Oh ya, Portsmouth, wajar saja menang"

MU adalah klub favoritnya, Cristiano Ronaldo idolanya. Saat bermain sepak bola setelah pelajaran penjaskes selesai, ia sering menirukan gerakan step over ketika menggiring bola sambil membayangkan Ronaldo melihatnya dan tersenyum bangga.

Sambil mengunyah sarapannya ia memerhatikan tayangan itu

Wasit memberikan tendangan bebas untuk MU

Lumayan jauh, sekitar 25 meter jaraknya

Ronaldo mengambil tendangan bebas

Awalnya para penonton mengira Ronaldo akan memberikan umpan ke dalam kotak penalti, begitu juga Edo yang berpikir itu terlalu jauh untuk langsung ditendang ke gawang.

Ronaldo berlari

Kaki kanannya menendang bola

Bola cukup deras melewati pagar betis

Ternyata bukan umpan, Ronaldo langsung menembak ke gawang

Knuckle Ball, deras sekali

Bola menukik tajam ke sudut gawang David James

GOL!

"Woow Gooll!! Gila sekali!

Edo spontan berteriak kegirangan melihat idolanya mencetak gol spektakuler.

"Sudah Edo, selesaikan sarapannya, makin lama berangkat jalanan makin ramai. Ayahmu sudah menunggu di teras."

Ucapan Ibunya membuat Edo bergegas menyelesaikan sarapan

Ia berpikir tepat sekali hari ini ada pelajaran penjaskes, akan mencoba tendangan seperti itu saat bermain bola.

"Dah Bu, Edo sekolah dulu. Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam, hati-hati, belajar yang benar"

Ucap Edo yang dibalas doa dari Ibunya.

Jam 2 siang Edo sampai rumah

Jadwalnya setelah ini adalah belajar mengaji

Tak jauh jaraknya, sekitar delapan rumah dari rumah Edo

Tepat di depan surau

Setelah mengaji, ia sholat ashar bersama teman ngajinya di surau itu

Kemudian mereka bergegas pulang, ganti baju, menunaikan janji yang tak tertulis bahkan tak perlu diucapkan: bermain bola di tanah kosong milik Pak RT.

Sore itu cukup ramai, ada 10 bocah seusianya yang ikut bermain.

Sontak saja sepasang sendal dijadikan gawang

Membagi tim menjadi 5-5

Rio, anak Pak RT, membawa bola plastik miliknya

Bola itu bergambar bintang-bintang

Khas bola UEFA Champions League

Membuat Edo semakin bersemangat, seolah ia pemain MU yang akan menghadapi Lyon Februari mendatang, meskipun bola plastik itu dimainkan dengan kaki telanjang, tanpa sepatu Nike atau Adidas.

“Ayo cepat mulai, sudah jam 4 ni.”

Teriak Rio, isyarat pertandingan dimulai, bak peluit panjang dari Pierluigi Collina


“Aduh! Kenapa kau tekel kaki ku?”

Teriak Edo yang terjatuh

“Ah ini kesempatan yang cocok, aku harus mencoba tendangan seperti Ronaldo tadi”

Gumam Edo dengan mata berbinar dan senyum yang tak disadarinya

Tim lawan mengatur pagar betis, 3 orang dibariskan sejajar

Edo mundur dengan langkah panjang

Berdiri dengan kaki yang terlihat sedikit mengangkang

Badannya tegak, menarik napas panjang, dan memonyongkan mulutnya menghembuskan nafas

“Ini persis Ronaldo”

Ujarnya dalam hati

Edo berlari

Menendang bola dengan sekuat tenaga

Bola plastik melambung tinggi

Tapi tiba-tiba menukik ke bawah

Tepat mengenai sendal tanda tiang gawang

Edo berteriak “GOOOOLL”

Rio sebagai lawan mengelak

“Gak, itu bukan gol, lihat tadi bolanya kena tiang (sendal)”

“Itu jelas gol, itu kan tiang (sendal bagian) dalam!”

Jelas Edo mengusahakan golnya

“Sekarang skornya 13-11 ya, tim kami 13”

Ucap Rio yang kemudian disetujui Edo

Ini pertandingan bergengsi, tidak ada waktu yang membatasi

Tapi teriakan para Ibu adalah aturan yang absolut

Tidak ada aturan manapun di dunia yang bisa mengalahkannya

Jam setengah 6 sore

Mereka membubarkan diri

Tidak ada salaman

Tidak ada maaf-maafan

Atau berbalas pujian

Yang ada cuma,

“Besok main lagi yaaa”

Selesai.



Komentar