Desa Kabut di Jalan Khatulistiwa


Amegakure, 13 September 2026


Rapat virtual Akatsuki pagi itu dipimpin oleh Pain. Sorotan tajam tertuju ke Deidara dan Tobi yang belum menyelesaikan tugasnya: menangkap Sambo Sanbi.

“Deidara, sudah berapa lama kalian mengejar Sanbi?”

“Dua minggu, Ketua.”

“Apa yang membuat kalian begitu lama menyelesaikan tugas itu?”

Deidara terdiam cukup lama, tak mampu menemukan alasan yang tepat untuk mengamankan dirinya.

“Siap salah, Ketua.” 

“Keterlambatan kalian menyelesaikan tugas mengakibatkan pengeluaran anggaran yang tidak efisien. Kalau dalam tujuh hari tidak selesai, kupastikan kalian menemani Kaguya di bulan.”

Kesabaran Pain sudah habis, kalau saja bukan rapat virtual, sudah pasti ia mengeluarkan jurus chibaku tensei.

“Baik, Ketua. Tapi sebelum itu, izin melaporkan kalau uang pegangan kami sudah habis.”

Pain menghela napas.

“Konan, cairkan biaya perjalanan dinas untuk Deidara dan Tobi.”

Konan segera memproses usulan pencairan dana kepada tim keuangan Akatsuki.

Deidara dan Tobi termasuk pegawai yang beruntung, mereka tidak perlu menggunakan uang pribadi untuk urusan pekerjaan.

Itachi, yang sebelumnya bekerja di ANBU, pernah bercerita ke Deidara bahwa dulu ia harus memakai uang pribadi setiap kali penugasan perjalanan dinas. Uangnya baru bisa diganti setelah ia mengajukan klaim ke bagian keuangan ANBU. Proses reimburse juga tidak sebentar dan perlu banyak lampiran dokumen. Alhasil, tak jarang Itachi harus kas bon di warung Ichiraku untuk menyambung hidup.

Ting...

Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Deidara. Saldonya di m-banking bertambah. Konan sudah menyelesaikan tugasnya.

“Ayo kita berangkat, Tobi. Kali ini kita harus berhasil menangkap Sanbi di Desa Kabut Kirigakure.”

Deidara mulai menghidupkan motor dinas operasional. Ia memastikan kendaraan itu siap dipakai untuk perjalanan jauh.

Sementara itu, Tobi sedang mengemaskan urusan logistik mereka. Dua botol mineral besar, roti isi vanila, roti isi abon, mi instan, nasi uduk instan, tak ketinggalan kompor mini dan cooking set. Bahkan ia juga membawa matras yang sudah digulung rapi dan diikat di bagian bawah tas carrier.

“Tobi, kamu mau camping ke mana?”

“Maksudnya apa, Senpai?”

“Kita harus menyelesaikan tugas ini kurang dari tujuh hari. Kamu seharusnya memikirkan cara cepat untuk menangkap bijuu itu, bukan malah cuma memikirkan urusan perut.”

Tobi menghela napas sambil berusaha menggendong tas perbekalan.

“Sudahlah, Senpai. Kalau perut kenyang, bekerja pasti lebih nyaman.”

“Siapkan jurus terkuatmu, Sanbi bukanlah lawan yang mudah ditaklukkan. Ayo kita berangkat, hidupkan GPS.”

Meskipun bukan motor keluaran terbaru, Deidara sangat suka mengendarainya. Tarikan yang kuat dan tenaga yang besar membuatnya mudah meliuk melewati truk-truk besar di jalan lintas antar desa.

“Yamaha RX-King memang motor favoritku. Kalau nanti Pain memutuskan untuk membeli motor dinas baru, aku akan membujuk tim aset untuk menghapusnya dari daftar aset Akatsuki.”

Ucapan Deidara menyadarkan Tobi yang hampir terlelap di perjalanan.

“Haahh?? Oh iya Senpai, aku juga suka makan onde-onde”

┃Baca Juga: Hujan, Kopi, dan Onde-onde

Deidara tidak mendengar apapun selain desiran angin dan suara knalpot khas motor dua tak.

Di depan mereka sudah tampak sebuah bangunan berbentuk gapura yang diselimuti kabut tebal. Kabut itu membuat mereka yakin kalau sebentar lagi akan tiba di Desa Kirigakure. Sebelum sampai ke sana, Deidara membelokkan motor menuju SPBU untuk mengisi bahan bakar.

“Pak, isi pertamax empat liter, ya.”

“Tak ade pertamax, bang, adenye pertalite jak ni.”

“Oke, Pak, isi pertalite full tank kalau gitu.”

Bahan bakar sudah terisi penuh. Deidara dan Tobi kembali melanjutkan perjalanan, mereka langsung menuju ke desa yang berkabut itu dengan satu tugas penting: menangkap Sanbi.

Semakin jauh mereka masuk, semakin pekat pula kabutnya. Satu hal yang disadari Deidara, kabut itu berwarna jingga kemerahan, bukan putih seperti biasanya. Ia merasa kalau mereka kena jebakan Desa Kirigakure.

“Tobi, ada yang aneh. Apa memang seperti ini Desanya? Atau jangan-jangan ada pengguna genjutsu kuat di Desa ini sekarang?”

“Apanya yang aneh, Senpai? Desa Kirigakure kan memang desa kabut, ya wajar berkabut.”

“Iya memang desa kabut, tapi kabutnya tidak seperti biasa. Bahkan tercium aroma terbakar seperti bekas ledakanku.”

Deidara terus melanjutkan perjalanan dengan kecepatan sangat rendah. Di depannya samar terlihat sebuah tongkat berwarna silver yang tertancap di tanah. Di atas tongkat itu ada sebuah pelat besi yang dicat hijau bertuliskan:

Jl. Khatulistiwa

“Apa kau lihat itu, Tobi?”

“Lihat kabut? Tentu saja aku melihatnya.”

“Ah coba lepas dulu topengmu supaya bisa melihat lebih jelas. Barusan aku lihat ada sebuah tanda bertuliskan nama wilayah. Apa benar ada khatulistiwa di Desa Kirigakure? Sebaiknya kita menepi dulu sambil buka peta.”

Lampu sein kiri dihidupkan, mereka melipir ke sebuah warung yang berada di tepi jalan. Cuaca yang panas ditambah kabut membuat tenggorokan terasa kering. Sambil memastikan posisi di peta, mereka turut mengisi tenaga dengan memesan es kelapa muda dan mi ayam.

Tenggorokan Deidara benar-benar semakin tidak enak, seolah menelan pasir. Cepat ia meminum es kelapa muda yang sudah datang.

“Cuih.... apa-apaan ini, kenapa air kelapa ini asin sekali?”

Belum sempat Deidara berdiri untuk menghampiri pemilik warung, Tobi menghentikan langkahnya.

“Senpai, sepertinya kita tidak berada di Desa Kirigakure.”

“Apa maksudmu? Bukankah di sini berkabut?”

“Betul, Senpai. Di tempat ini memang berkabut, tapi sepertinya ini bukan kabut air”

Deidara semakin bingung. Ia membetulkan posisi duduknya dan memasang wajah serius. Tidak sadar ia kembali meminum es kelapa lagi.

“Cuih.... asin sekali. Hei Tobi, memangnya ada kabut yang bukan dari air?”

“Sebentar, Senpai. Aku juga bingung. Tapi sebaiknya kita habiskan dulu mi ayam, aku sudah lapar.”

Tak lama kemudian semangkuk mi ayam dan segelas es kelapa itu habis tak bersisa. Kenyang tapi tidak terlalu nikmat.

“Senpai, sepertinya mereka terlalu banyak menambahkan garam di mi ayam tadi.”

“Iya, sama juga dengan es kelapanya, asin. Kenapa mereka menambahkan garam di minuman seperti itu?”

“Aku tidak tahu, Senpai. Tapi karena aku lapar sekali, jadinya aku habiskan saja dulu.”

Deidara menghela napas. Sejak tadi ia ingin menanyakan perihal keasinan makanan dan minuman mereka. Ia kemudian berdiri dan menghampiri pemilik warung.

“Paman, kenapa paman menambahkan garam ke es kelapanya?”

“Hah? Garam? Oh, ndak, Bang. Bukan garam tu, itu asin dari es batu.”

“Ada apa dengan es batunya, Paman?”

“Aek agik susah, Bang. Ini kami buat es batu pakai air ledeng. Air ledeng kami sudah asin dari bulan lalu. Sudah hampir dua bulan ndak turun hujan, muka air sungai kapuas turun, air laut masuk ke sungai, ledeng kan dari sungai, makanya air ledeng asin, Bang.”

Ting...

Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Tobi.


“Senpai, kita harus segera pergi dari sini.”

“Ada apa, Tobi? Tidak biasanya kamu panik seperti itu.”

Tobi menunjukkan notifikasi ponselnya ke Deidara. Deidara bingung, ia tidak memahami apapun dari informasi di ponsel Tobi selain udara beracun. Ia mengambil ponsel itu dan menujukkan ke pemilik warung

“Paman, ini apa maksudnya?”

“Ini kualitas udara, Bang. Beginilah kondisi Pontianak sekarang, udara penuh racun karena asap kebakaran hutan.”

“Pontianak? Sungai Kapuas? Air Asin? Ini bukan Desa Kirigakure?”

“Kirigakure? Abang ni ngade-ngade jak. Ini Pontianak, Bang, di Kalimantan Barat. Tempat kami lagi musim kabut asap karhutla.”

“Apa?? Tobi, ayo kita pergi. Bayar dulu makanan kita tadi. Kita harus segera pergi menuju Desa Kirigakure untuk menangkap Sanbi, atau kita akan menerima hukuman.”

Tanpa menanyakan harga, Tobi menyerahkan selembar uang seratus ribu kepada pemilik warung. Ia langsung bergegas menyusul Deidara yang sudah ada di atas motor. Asap mengepul dari knalpot motor mereka, menambah pekatnya asap di sekitar.

Deidara menuju jalur kembali ke pom bensin di dekat gapura tadi. Kali ini sedikit lebih cepat untuk mengejar waktu. Hukuman Pain tidak main-main, mereka tidak mau menghabiskan sisa hidup dengan mengelilingi bumi.

Belum jauh mereka berkendara, Tobi menepuk-nepuk bahu Deidara.

“Senpai, tolong menepi sekarang, perutku sakit sekali, harus cari toilet.”

“Di depan sana ada masjid, tunggu sebentar lagi dan kita akan mampir ke....”

Belum selesai Deidara berbicara, ia juga merasakan sakit perut yang sama. Ditariknya gas motor sedalam mungkin, melewati sebuah truk besar yang membawa kontainer, kemudian belok kiri dan berhenti di masjid. 

Kunci motor dicabut, barang berharga sudah dibawa, mereka berlari menuju toilet di masjid itu. Siang itu masjid tidak ramai, jamaah sholat zuhur sudah bubar satu jam yang lalu. Menjadi sebuah peruntungan karena tidak ramai orang yang mendengarkan “konser toilet” mereka.

Tak lama berselang, mereka sudah menyelesaikan hajat.

“Ah... lega. Perutku tadi sakit sekali. Sepertinya karena mi ayam dan es kelapa tadi, Paman itu buat es batu pakai air ledeng.”

“Senpai, aku merasa tak enak, apa kita harus cari rumah sakit?”

“Hush! Ini cuma sakit perut biasa. Jangan berlebihan. Ayo kita lanjutkan perj....”

Belum selesai berbicara, Deidara berlari menuju toilet untuk kedua kalinya. Di dalam toilet, ia mulai berpikir bahwa mungkin kali ini Tobi benar. Sepertinya mereka perlu memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat.

Setelah menyelesaikan urusannya, Deidara keluar toilet. Ia melihat pintu toilet di sebelahnya yang terkunci.

“Tobi, apa kau di dalam?”

“Iya, Senpai, aku masuk tak lama setelah kau masuk tadi.”

Teriak Tobi dari dalam toilet. 

Deidara menyandarkan punggungnya ke tembok masjid. Tak lama berselang, Tobi keluar dengan wajah pucat.

“Senpai, sepertinya ini bukan sakit perut biasa.”

“Iya, aku juga berpikiran sama. Tapi kita tunggu dulu sebentar apa memang kita per...”

Krrrrkk.... sebuah suara terdengar dari perut Deidara, persis seperti suara kodok yang memanggil hujan, hanya saja lebih cempreng.

“Senpai...”

Deidara cuma menoleh sebentar lalu kembali menuju toilet.

Braakkk... 

suara pintu yang ditutup Deidara dengan keras.

Braakkk... 

kali ini Tobi yang membanting pintu toilet sebelahnya.

Sekarang Deidara benar-benar yakin kalau mereka harus segera mendapat pertolongan di rumah sakit terdekat.

Deidara lebih dulu selesai. Ia cuma membuka pintu toilet tapi tidak melangkah keluar, khawatir akan sakit perut lagi. Tak lama Tobi juga selesai.

“Tobi, kita harus segera ke rumah sakit.”

“Iya, Senpai. Ayo pergi sekarang.”

“Setelah selesai yang satu ini, aku akan menunggumu di motor, kita langsung pergi ke rumah sakit terdekat.”

“Baik, Senp...”

Braakkk...

Deidara kembali menutup pintu toilet dengan keras, bergegas menyelesaikan urusannya yang tak kunjung usai.

Braakkk...

Tobi mengikuti.

Beberapa menit kemudian, Deidara membuka pintu toilet, begitu juga Tobi yang sudah selesai. 

“Tobi, hitungan ketiga kita berlari ke motor, lalu bergegas ke rumah sakit.”

“Baik, Senpai.”

“Satu, ...... TIGA!”

Mereka berlari menuju sepeda motor, bergegas menuju rumah sakit. Tobi yang sejak di toilet sudah menyiapkan rute terdekat, dengan sigap menunjukkan arah tujuan mereka. 

Rute menuju rumah sakit ternyata melewati warung Paman tadi. Deidara berusaha mengendalikan perutnya dengan mengatur napasnya. Bukannya tenang, napasnya malah terasa lebih berat.

Lampu sein kanan dihidupkan, tibalah mereka di gerbang masuk rumah sakit. Tidak melambat, Deidara terus melaju sampai ke depan pintu UGD.

“Maaf, Pak. Kami sudah tidak kuat lagi. Ini kunci motornya.”

Deidara memberikan kunci motor kepada petugas keamanan di depan UGD. Terlihat raut kesal dari petugas itu, tapi kemudian memakluminya karena melihat wajah mereka yang pucat pasi.

Tidak menunggu petugas kesehatan menghampiri, Deidara dan Tobi langsung berbaring di ranjang UGD. Seorang perawat datang memeriksa Deidara terlebih dulu. Setelah menanyakan keluhan dan memasang oxymeter, perawat itu memeriksa Tobi, kemudian menyampaikan kondisi mereka ke dokter jaga.

“Pak, ini Bapak sedang terkena diare dan sedang kekurangan cairan. Kami pasang infus dulu, ya. Kami juga harus memantau sejenak bagaimana kondisi pernapasan Bapak, saat ini kadar oksigen bapak 93%. Tadi di luar pakai masker tidak?”

“Tidak, Dok. Saya tadi tidak pakai masker.”

“Baik, Pak. Dengan kondisi udara seperti ini, kami perlu memantau pernapasan Bapak lebih lanjut, ya. Tadi perawat bilang, sebelum ke sini Bapak minum es kelapa, ya?”

“Iya, Dok.”

“Kalau diare, bisa macam-macam penyebabnya, Pak. Bisa dari makanan atau es batu dalam minuman. Apalagi tadi Bapak bilang airnya terasa asin.”

Deidara cuma mengangguk. Tubuhnya terasa lemas sekali. Ia memandang Tobi yang terbaring tetapi masih bisa membuka ponsel.

“Tobi, tolong lapor Ketua kalau perjalanan kita terhambat.”

Tobi memberikan jempolnya tanda setuju. Ia mengambil foto Deidara yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangan terinfus. Foto itu dikirimnya ke Pain dengan kalimat:

“Izin, Ketua. Melaporkan perjalanan kami menangkap Sanbi terhambat. Aku dan Senpai sedang dirawat di UGD rumah sakit karena terkena diare.”

Pesan terkirim.

“Senpai, aku sudah menyampaikan kabar ke ketua. Tapi sudah setengah jam berlalu dan belum ada balasan.”

Deidara melihat ke arah Tobi, belum mampu memberi respon selain alis yang ia angkat dua kali.

Ting...

“Panjang umur, Senpai. Ketua sudah membalas pesan.”

🌕

Pain membalas dengan satu karakter saja, sebuah emoji berbentuk bulan.

“Senpai, cuma ini balasan dari ketua. Apa maksudnya?”

Tobi menunjukkan ponselnya, Deidara melihatnya dengan tatapan sayu dan wajah yang sedih tanpa membalas satu katapun.

“Kenapa, Senpai?”

“Kau pikir saja sendiri, Tobi. Aku mau istirahat.”

Deidara berbaring telentang di ranjangnya. Memandangi lampu di langit-langit rumah sakit. Ia sudah tak mampu lagi mengkhawatirkan ancaman Pain yang akan mengirimnya ke bulan.

Di tengah sunyi itu, ia berpikir:

“Apa sebaiknya aku kabur saja lalu jualan air bersih dan masker di sini, ya?”



Sumber:

Komentar