pada tanggal
Absurd
Sekitar Kita
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Udara dingin semakin terasa sejak selesai sholat ashar, pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Pak Iwan masih di mejanya, menyelesaikan pekerjaan yang tersisa sebelum jam pulang. Ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari istrinya yang sedang mengandung, memasuki trimester ketiga.
"Mas, pulang nanti titip onde-onde yang dekat alun-alun kota, ya"
"Oke, Dek. Pulang nanti Mas mampir belikan."
Tujuh tahun pasangan suami-istri itu menunggu kedatangan buah hati. Berbulan-bulan mereka menanti dengan penuh upaya dan doa. Beberapa program kehamilan mereka jadwalkan bersama dokter kandungan. Awal tahun ini akhirnya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, istri Pak Iwan positif mengandung anak pertama mereka.
Membaca pesan istrinya tadi, Pak Iwan tersenyum sendiri.
"Ini pasti anakku yang minta onde-onde, anak lanangku, begitu jam pulang aku akan langsung absen dan pergi, kasian kalau gak kesampaian nanti dia ileran."
Jam pulang masih lima menit lagi. Kepala Pak Iwan dipenuhi onde-onde hangat yang ditaburi biji wijen, akan dibelinya lebih untuk jadi teman ngopi nanti malam. Sementara di atas sana, langit mulai gelap tertutup awan mendung.
Komputer sudah dimatikan, mejanya juga sudah dirapikan. Tiga menit lagi. Waktu absen pulang dan hujan yang segera datang beradu kecepatan. Pak Iwan berdiri, mengenakan jaketnya, dan menuju ke mesin absen. Masih dua menit lagi.
"Aku absen saja, ini pasti akan potong gaji selama lima belas menit, tapi sudahlah, yang penting jangan sampai terlambat lalu malah kehabisan onde-ondenya."
Jarinya menekan mesin absen, lalu bergegas menuju sepeda motornya dan segera tancap gas. Kali ini Pak Iwan beradu cepat dengan sang hujan. Ia tak menghiraukan awan gelap di atas, cuma dua hal yang ada di benaknya, anaknya yang masih dalam kandungan dan onde-onde hangat.
Guntur mulai menggelegar di langit, seolah semesta turut menyaksikan perjuangan Pak Iwan, si calon ayah untuk mendapatkan onde-onde. Tidak jauh lagi jaraknya ke warung Mbah Anyep. Tinggal sekali belokan, dan ia akan sampai di warung sederhana yang masih didominasi material kayu itu.
Lampu sein motornya menyala, setang dibelokkan ke kiri. Pak Iwan optimis.
"Sedikit lagi sampai."
Namun awan sudah tak kuasa menanggung air. Rintik hujan mulai turun perlahan tapi pasti. Pak Iwan menarik gas motornya semakin kencang. Hujan pun seolah tak mau kalah, turun semakin deras mengguyur jalanan. Ia nekat menerobos tanpa jas hujan.
"Alhamdulillah sampai di warung Mbah Anyep, untungnya pakaianku tidak terlalu basah. Mbah, onde-onde masih ada?"
"Ada, mas. Tapi masih digoreng, nunggu lima belas menitan boleh?"
"Oke, Mbah, pesan sepuluh biji ya."
Pak Iwan melangkah ke bagian dalam warung, mencari kursi kosong untuk menunggu pesanannya selesai.
Di warung itu, Mbah Anyep ditemani anak laki-lakinya yang bertugas menyiapkan minuman dan menghidangkan pesanan pelanggan.
Satu per satu pelanggan sudah menerima pesanannya. Hujan sore ini begitu deras, belum ada pelanggan baru yang datang. Tinggal tiga orang yang belum kebagian onde-onde, salah satunya Pak Iwan.
"Mas Karyo, tolong kopi hitam satu, ya. Hujan-hujan gini memang paling pas minum kopi."
Mas Karyo, anak Mbah Anyep, sigap membuatkan kopi pesanan Pak Iwan yang memilih duduk tidak jauh dari area memasak. Racikannya cukup terkenal di kalangan bapak-bapak sekitar. Konon seruputan pertama mampu mengendurkan urat leher yang tegang selepas kerja. Ia tak pernah menggunakan timbangan digital atau termometer segala, terlalu njelimet katanya. Kalau warung sedang lengang seperti sore ini, ia lebih suka membuat kopi sambil menyapa pelanggan.
"Pulang kerja, Mas Iwan?"
"Iya, Mas, baru balik kantor. Orang rumah minta belikan onde-onde, lagi ngidam hehehe..."
"Waaah selamat ya, Mas. Sudah berapa bulan usianya?"
"Insya Allah minggu depan tujuh bulan, Mas. Mohon doanya, ya."
Mas Karyo tersenyum, lalu berjalan hati-hati membawa secangkir kopi pesanan Pak Iwan.
"Silakan, Mas, diminum dulu kopinya."
Asap terlihat masih mengepul dari dalam cangkir keramik bermotif bunga-bunga. Kalau diminum sekarang, yang terasa cuma air panas dan bubuk kopi yang belum turun. Pak Iwan memilih menunggu sejenak.
Pandangannya beralih ke tiang kayu di samping area masak, mencari kudapan yang biasanya tergantung di sana. Cuma tersisa kerupuk udang yang tidak terlalu menarik minatnya. Ia berdiri, menuju wadah gorengan yang ada di dekat Mbah Anyep.
"Mbah, saya ambil pisang sama ubi rambat, ya. Nanti hitung sekalian dengan onde-ondenya."
"Iya, Mas. Silakan diambil saja."
Wadah itu terbuat dari anyaman bambu yang dialasi kertas koran bekas. Pak Iwan mengambil piring kecil di sebelahnya, mengambil gorengan pisang dan ubi rambat, lalu kembali ke tempat duduknya.
Pak Iwan adalah penikmat kopi musiman. Ia cuma ngopi kalau lagi hujan. Kalau cuaca panas ia beralih ke es kelapa muda karena takut panas dalam. Ia tak begitu peduli soal macam-macam istilah ngopi yang membuatnya pusing. Jangankan soal karakter rasa, nama menu kopi seperti americano saja sudah cukup membuatnya bingung.
Asap yang tadi mengepul dari cangkirnya perlahan menghilang. Pak Iwan mulai mengaduk kopinya, lalu menyeruput sedikit.
"Nah, ini baru pas. Kopi panas ditemani gorengan manis."
Pak Iwan mengangguk puas.
"Enak betul kopi sampeyan, Mas. Apalagi ditemani gorengan kayak gini.” Ia menyodorkan piringnya ke Mas Karyo. “Ayo, Mas, ikut nyicip."
"Waduh, ya gak boleh toh, Mas Iwan. Nanti jadinya pamali, 'kan saya juga jualan di sini hahahaha..."
Di tengah tawa itu, Mas Karyo mengernyitkan hidung. Tercium aroma samar yang cukup dikenalnya, bau khas gas elpiji yang isi tabungnya tinggal sisa. Ia menoleh ke arah kompor, lalu permisi sebentar untuk menghampiri Mbah Anyep yang masih asik menggoreng onde-onde.
“Mbah, ini ada bau gas, kayaknya sebentar lagi habis.”
Mbah Anyep menarik napas dalam, berusaha mengendus aroma yang dicium anaknya.
“Iya, le. Aduh gimana ini, punya mbaknya yang nunggu dari tadi belum selesai digoreng, punya Mas Iwan malah belum sempat masuk wajan.”
Obrolan itu berlangsung pelan. Mereka mengupayakan agar kepanikan tidak menyebar ke seluruh sudut warung.
Di luar, hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Lima belas menit lagi azan maghrib berkumandang, Pak Iwan mulai kepikiran istri dan calon anaknya di rumah. Diraihnya ponsel di dalam saku jaket, bertepatan dengan pesan baru dari istrinya.
“Mas, Adek masak ikan kakap asam pedas sama sambel, ya. Di rumah juga ada kerupuk. Nasinya lagi dimasak, seharusnya sudah matang pas Mas Iwan sampai rumah. Adek tunggu, ya, nanti makan sama-sama.”
Pak Iwan tersenyum membaca pesan itu. Perutnya jadi terasa lapar membayangkan masakan yang sudah disiapkan. Ubi goreng yang masih tersisa di piringnya dipandang sebelah mata, tidak sebanding dengan segarnya ikan asam pedas. Belum sempat pesan itu dibalas, pesan baru masuk ke ponselnya.
“Mas di mana? Onde-ondenya masih ada? Sudah mau maghrib, anaknya dari tadi nanyain terus loh, laper katanya. Adek gak mau ya kalau nanti dia ileran.”
Kembang kempis hidung Pak Iwan karena terkekeh membaca pesan kedua. Jarinya mulai mengetik pesan balasan.
“Mas Iwan...”
Panggilan dari Mas Karyo menundanya mengetik. Ada keraguan yang ditangkap Pak Iwan dari suara itu.
“Mas, gas kami kayaknya mau habis.” ucap Mas Karyo sambil menggaruk kepala. “Apinya sudah gak rata, kalau dipaksa nanti onde-ondenya gak matang sempurna, jadinya gak renyah.” Ia menghela napas. “Maaf, Mas. Punya Mas Iwan belum sempat masuk wajan, antrian terakhir soalnya.”
Hening. Kedua pria itu saling tatap. Ikan kakap sudah hilang dari bayangan Pak Iwan, seolah mendapat kebebasannya untuk kembali berenang. Ia menghela napas, persis seperti saat menerobos hujan tadi, namun kali ini tak bisa melawan dengan tarikan gas motor.
“Jadi gimana, Mas? Apa ada tabung elpiji cadangan?”
“Gak ada, Mas, kami cuma punya satu. Sebenarnya ada dua, tapi tiga minggu yang lalu dicuri orang.”
Alot. Pak Iwan kembali terdiam. Ternyata menerjang hujan tadi belum ada apa-apanya dibanding urusan onde-onde sore ini.
“Ya sudah, Mas, sini saya pergi belikan.”
“Tenang, Mas Iwan. Tadi begitu cium bau gas, saya langsung pesan gas baru di warung seberang gang.” jawab Mas Karyo. “Biasanya cepat diantar, tapi gak tau kalau lagi hujan deras gini.”
Pak Iwan menarik napas panjang. Tersenyum kaku sambil mengangguk pelan.
“Okela, Mas. Saya tunggu onde-ondenya selesai sambil ngabisin kopi.”
Azan maghrib berkumandang dari surau di sebelah warung Mbah Anyep. Sebelum menunaikan sholat, Pak Iwan meminta tutup cangkir ke Mas Karyo kemudian mengetik pesan balasan kepada istrinya.
“Mas masih di warung Mbah Anyep, Dek. Gasnya habis, pesanan kita belum digoreng. Mas mau sholat dulu sambil berdoa semoga onde-ondenya langsung matang setelah selesai sholat.”
Pak Iwan memasukkan ponselnya ke saku jaket, bersiap menuju surau. Sebelum berangkat, ia pamit ke Mas Karyo dan berpesan agar kopinya tidak dikemaskan dulu.
Hujan mulai reda. Tepat satu langkah ia keluar dari pintu warung, tabung gas isi ulang pun tiba. Senyum Pak Iwan kembali muncul, ekspresi wajahnya berubah drastis.
“Mas, Mas Karyo, ini gasnya sudah sampai. Ayo cepat dipasang. Mbah, onde-ondenya digoreng yang mantep ya, gasnya sudah baru, ‘kan? Apinya bisa lebih panas berarti.”
Mas Karyo dan Mbah Anyep tertawa kecil melihat wajah Pak Iwan yang tiba-tiba semringah. Pak Iwan melanjutkan langkahnya ke surau, tak ingin ketinggalan sholat berjamaah.
Beberapa waktu kemudian Pak Iwan selesai sholat. Tak lupa ia memanjatkan syukur atas tuntasnya perjuangan membeli onde-onde.
Tiba kembali di warung Mbah Anyep, Pak Iwan duduk menghabiskan kopinya. Tak lama kemudian Mas Karyo menghampiri sambil menyerahkan pesanannya, sepuluh biji onde-onde panas yang dibungkus dalam kertas minyak.
“Ini, Mas Iwan. Sepuluh biji onde-onde, fresh from wajan si Mbah”
Pak Iwan menerima bungkusan itu dengan kedua tangannya, seolah menerima bingkisan atau kenang-kenangan ala pejabat daerah.
“Alhamdulillah, dengan onde-onde ini saya bisa pulang. Berapa semuanya, Mas?”
“Sepuluh biji onde-onde, dua gorengan, sama satu kopi hitam, totalnya jadi empat puluh ribu ya, Mas.”
Selembar uang lima puluh ribu keluar dari dompet Pak Iwan. Ia menolak kembalian yang diserahkan Mas Karyo.
“Mbah, Mas, saya pamit pulang ya. Terima kasih banyak.”
Mbah Anyep dan Mas Karyo membalas dengan senyum dan mengucapkan terima kasih. Pak Iwan menghidupkan motornya, melaju pulang menembus udara dingin pasca hujan deras sore tadi.
Sesampainya di rumah, istrinya membukakan pintu dan menerima sebungkus onde-onde yang masih terasa hangat.
“Kok lama sekali, Mas?”
“Kalau kamu yang pergi beli, gak akan terasa lama, Dek. Mas mandi dulu, ya, ceritanya agak panjang, nanti Mas ceritakan pas kita makan malam.”
Pak Iwan menuju kamar mandi, istrinya memindahkan onde-onde ke wadah anyaman bambu. Lengkap sudah sajian meja makan malam itu.
Komentar
Posting Komentar